Kekuatan berpikir, haruskah?

Mon 30 Jun 2008
1 Komentar Ditulis oleh rumahkerja
Dipublikasikan pada kategori Kata Kita
Oleh : m. muhadzis g.

Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah jalan terbaik menuju sebuah penyelesaian. Tak terbatas pada penyelesaian yang ada didepan mata saja tetapi juga penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan yang lebih jauh lagi berada didepannya. Kekuatan berpikir telah menjadi semacam sinyal yang tak samar bagi sebagian orang dalam menyetujui tindakan seseorang. Kekuatan berpikir seseorang juga telah didapati mampu mengambil hati dan pikiran sebagian orang lain. Betapa magnet kekuatan berpikir ini diketahui begitu besarnya dalam menarik massa. Sehingga sulit didapatkan siapa-siapa saja yang tidak ikut tertarik kedalamnya. Kalau pun ada, mungkin ia akan disebut sebagai orang yang tidak berpikir.
Telah disepakati sebelumnya, bahwa kekuatan hanya dapat diperoleh melalui latihan-latihan. Beberapa metode latihan pun senantiasa dicoba-terapkan untuk dapat mencapai kekuatan. Karena sebelumnya telah pula disadari, bahwa tidak ada sesuatu pun yang datang secara tiba-tiba. Segalanya membutuhkan proses. Dalam bahasa yang lebih sederhana, “segala sesuatu ada waktunya”. Penempaan terhadap sesuatu ini, yang kemudian diyakini, mesti dilakukan sejak dini. Karena sesuatu yang kuat, dipercaya kelak menjadi warisan yang tak akan pernah terabaikan. Sesuatu yang kuat adalah harapan dan mimpi-mimpi setiap bayi yang baru lahir. Seperti juga kekuatan seorang Ibu ketika menyapih anak yang masih kecil supaya tumbuh besar.
Dan ketika telah dimafhumi hal-ihwal warisan, cara berpikir-lah yang selalu menjadi perhatian serius. Cara berpikir harus selalu diwariskan, begitulah yang terjadi. Kecenderungan melenceng dari cara berpikir adalah kecenderungan yang senantiasa diwaspadai. Sedikit saja berbelok, maka rusaklah tatanan yang telah dibangun kokoh. Dan tidak ada seorang pembangun pun yang menginginkan bangunannya roboh. Namun yang patut disayangkan, kadang kala terjadi pemaksaan terhadap cara berpikir seseorang. Pemaksaan seperti itulah yang semestinya disepakati-ulang.
Adalah sah apabila pemaksaan tersebut memang ditujukan untuk hal-hal yang benar dan mulia. Sebab setiap kerusakan harus ditangani sesegera mungkin, sebelum segalanya menjadi terlambat dan tidak bisa lagi diperbaiki. Sebelum hal-hal yang benar lagi mulia itu hablur dan terdeviasi, pemaksaan adalah satu-satunya kata-kunci untuk menutup kembali lubang-lubang kerusakan. Pemaksaan untuk sebuah kebenaran adalah juga kebenaran itu sendiri. Namun akan lain lagi ceritanya, apabila pemaksaan tersebut diterapkan pada orang-orang yang memiliki kekuatan berpikir. Semakin dipaksa, mereka akan semakin kuat. Semakin ditekan, mereka akan semakin mempertanyakan. Semakin dihadang, mereka akan semakin membangkang. Pemaksaan, di tempat yang seperti ini, menemukan rintangannya. Kalau sudah demikian keadaannya, perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi yang sejatinya dilakukan untuk sebuah kebenaran, hanya akan seperti makan hati lalu pulang dengan menelan ludah sendiri yang terasa semakin pahit. Perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi tak akan berguna lagi, kecuali bagi yang memang ingin men-terkenal-kan diri mungkin.  
Hanya butuh sedikit waktu
Tidak banyak sebenarnya yang diminta oleh suatu kejelasan. Untuk apapun, dengan argumen apapun niscaya tampak hakikat kebenaran. Dan itulah suatu kejelasan yang terberikan. Itu pulalah yang merupakan kepuasan akal. Sayangnya, kekuatan berpikir kadang kala malah memburamkan makna yang telah jelas. Pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat malah menghancurkan hakikat itu sendiri. Tindakan-tindakan merombak kebenaran, guna mendapatkan kebenaran-kebenaran baru untuk diyakini, cenderung membingungkan dan pada akhirnya malah memusnahkan tatanan yang telah ajeg dan jelas. Padahal, ketika ke-musnah-an terjadi, tidak akan ada yang bersedia untuk dipersalahkan.
Jika memang didapati ada beberapa individu yang memiliki motivasi bongkar-pasang kebenaran, maka sudah selayaknya, ada individu-individu lain sebagai penyeimbang. Individu-individu yang tetap berada diatas jalannya, yang diyakini perjalanannya adalah juga sebuah kebenaran, tidak mudah goyah oleh angin kerusakan dan tidak rentan tersengat zaman. Individu-individu penyeimbang ini bisa jadi ada dimana saja dan datang darimana saja. Persoalannya, dimana mencari individu-individu penyeimbang ini?. Sedangkan, individu yang bongkar-pasang kebenaran dan individu penyeimbang-nya, seringkali didapati bahwa kedua-duanya adalah pencari kebenaran. Seringkali juga, adanya semacam pengakuan, bahwa kedua-duanya adalah orang-orang yang sedang mencari kebenaran.
Hanya butuh sedikit waktu, untuk penampakan hakikat kebenaran. Dan memang, waktu tersebut, tidaklah banyak. Namun, kekuatan berpikir acapkali tak menyadari waktu, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Jarang sekali disadari, bahwa ada yang disebut dengan waktu renggang atau waktu relaksasi, yang seharusnya dimiliki oleh kekuatan berpikir itu sendiri sebenarnya. Dimana waktu relaksasi ini berfungsi sebagai pen-stabil kekuatan berpikir. Yaitu, agar (kekuatan berpikir) ini tidak anjlok kembali pada nadir kelemahannya secara tiba-tiba. Patut diketahui, bahwa ketergesa-gesaan adalah sebenar-benarnya musuh yang harus dihindari, kecuali untuk hal-hal tertentu yang telah disepakati, ketergesa-gesaan merupakan suatu keharusan, namun hal-hal tertentu ini (ketergesa-gesaan yang merupakan keharusan) jumlahnya sedikit sekali. Jadi, pada asalnya, ketergesa-gesaan haruslah dihindari. Sebisa mungkin untuk terlihatnya hakikat kebenaran. Dan itu berarti hanya butuh sedikit waktu.
Disinilah perdebatan yang tak akan pernah berhenti itu, yakni, ketika kekuatan berpikir dihadapkan pada “kekuatannya” yang optimal, ketika kekuatan berpikir mesti “berpikir” sekeras mungkin, ketika kekuatan berpikir “hanya” harus menghadapi dua pilihan, menunggu atau terus bergerak melaju. Ketika itulah, kekuatan berpikir harus menyerah tanpa daya pada apa-apa yang tak pernah terpikirkan. Tanpa pemaksaan dan tanpa kekuatan. Karena siapa tahu, bahwa menyerah adalah juga termasuk kedalam kekuatan berpikir.

Wallahu’alam wallahulmusta’an.
Cibeusi, jatinangor 30.06.2008

Kekinian, “proses” yang melelahkan dan me”lena”kan

Tue 24 Jun 2008
4 Komentar Ditulis oleh rumahkerja
Dipublikasikan pada kategori Kata Kita
Oleh : m. muhadzis g.

Membicarakan waktu, berarti membicarakan sesuatu. Sesuatu yang empirik maupun sesuatu yang khayal, keduanya masih selalu saja dipertimbangkan. Dan keduanya, tidak akan berhenti untuk selalu dijadikan acuan, sampai waktu itu sendiri yang benar-benar menghentikannya. Sebagian individu membutuhkan kalkulasi -secermat mungkin- sebagai teman setia untuk mendampingi usia. Sebagian yang lain -lebih- membutuhkan mimpi-mimpi daripada realita dalam menghabiskan umurnya. Sebagian yang lain lagi justru tak tahu-menahu apa-apa saja yang dibutuhkan guna menghadapi waktu.
Telah banyak yang menggali peristiwa-peristiwa di waktu lampau. Ada yang mencatatkannya -dalam bentuk apapun- sehingga peristiwa-peristiwa itu akan selalu diingat oleh orang-orang yang melihat catatan-catatan tersebut -termasuk pencatatnya sendiri-, ada pula yang hanya cukup menyimpannya didalam kepala kemudian membicarakannya kepada orang lain agar peristiwa-peristiwa itu terus tersimpan didalam kepalanya dan kepala orang lain, ada lagi yang menyimpannya didalam kepala, meresapkannya kedalam hati, membicarakannya lalu mengimplementasikannya dalam tingkah laku sehingga peristiwa-peristiwa itu terus-menerus terjadi, sehingga peristiwa-peristiwa itu terus menerus berulang dan tidak lagi mengenal waktu.
 
Peristiwa-peristiwa di waktu lampau, entah itu yang baik atau yang buruk, senantiasa menjadi sandaran bagi seseorang untuk berpijak sebelum bergerak. Baik atau buruk lebih mudah didapat daripada benar atau salah. Seringkali seseorang mendapati sesuatu yang ada saat ini, telah pernah ada juga di waktu lampau. Kemudian ia mendapati bahwa hal itu baik, menurut saat ini dan juga menurut waktu lampau. Tetapi kemudian, apakah hal itu benar? Mengingat kebenaran selalu saja merupakan sebuah pendekatan. Sedangkan kebaikan selalu saja lebih mampu untuk diamini, oleh saat ini dan oleh waktu lampau, yang kemudian diyakini dan tidak lagi menjadi sebuah pendekatan. Dan dimanakah posisi kebaikan jika dibandingkan dengan kebenaran? Lalu, jika sudah memandang peristiwa-peristiwa di waktu lampau, apa yang semestinya terlebih dahulu diyakini, kebaikannya ataukah kebenarannya? Dan jika peristiwa-peristiwa di waktu lampau itu memiliki nilai, yang mana yang lebih tinggi nilainya, kebaikannya ataukah kebenarannya? Dan jika peristiwa-peristiwa di waktu lampau itu layak untuk dipertahankan, yang mana yang seharusnya lebih dulu untuk dipertahankan, kebaikannya ataukah kebenarannya?
Adapun kaitan suatu peristiwa dengan individu, karena ada saja sebagian individu yang selalu ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa, maka yang akan terjadi adalah sebuah perkenalan, yang sebetulnya telah ada latar belakang yang kuat lebih dulu sebelumnya. Bisa jadi karena sejarah atau malah karena ingin membuat sejarah. Perkenalan inilah yang kemudian menjadi sebuah tanda pengenal bagi individu dan suatu peristiwa. Baik itu menjadi tanda pengenal bagi individu dengan suatu peristiwa maupun tanda pengenal bagi suatu peristiwa dengan individu. Sebaliknya, tentang individu yang selalu saja tidak ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa, itu berarti individu tersebut yang telah menjadi tanda pengenal untuk dirinya sendiri. Tanpa membutuhkan suatu peristiwa apapun.
Akan selalu ada kelelahan bagi individu yang selalu ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa. Namun akan ada kelelahan yang lebih besar lagi bagi individu yang selalu tidak ingin menjadi bagian dari suatu peristiwa. Pencapaian masing-masing individu akan selalu tergantung dari motivasi masing-masing individu -dengan mengesampingkan pengakuan yang biasanya akan tampak sebelumnya-. Dan pencapaian inilah yang semestinya tidak disamaratakan pada semua individu. Dan itu berarti sangat jelas, bahwa pencapaian masing-masing individu akan sangat berbeda. Dan terkait kelelahan masing-masing individu, itu berarti lagi, tidak bisa disamaratakan, bahwa kelelahan masing-masing individu akan sangat berbeda.
 
Sesuatu Yang Fundamental
Sesuatu yang fundamental kerap menjadi batu sandungan bagi kekinian. Saling menjatuhkan adalah adegan yang sepertinya harus selalu dimainkan oleh keduanya. Sesuatu yang fundamental sepertinya harus selalu memainkan drama tragis sedangkan kekinian lebih memilih komedi -terlepas dari satiris atau absurditas-. Giliran waktu yang mencatatkannya. Ketika “ada drama” yang diketahui, kejujuran akan terungkap, akan ada pilihan bagi individu untuk berada disisi yang mana. Klimaks mesti terjadi. Penonton adalah juga yang ditonton. Namun, ketika peperangan telah disadari menghasilkan sesuatu, -air mata, darah atau kemenangan yang membahagiakan- benih-benih fundamental tumbuh lagi dan kekinian masih akan selalu menyelimutinya. “Proses” terjadi lagi. Waktu dibicarakan lagi.
Sesuatu yang fundamental harus mampu diyakini secara empirik. Harus ada kalkulasi yang tidak bisa dipatahkan oleh kalkulasi lain yang datang setelahnya. Ketika kalkulasi yang telah diyakini mampu dipatahkan oleh kalkulasi lain, maka seketika itu juga kalkulasi yang baru ini membutuhkan waktu agar mampu diyakini.
Sesuatu yang fundamental yang mencatat waktu. Setiap keadaan mampu diramalkan awal dan akhirnya. Sesuatu yang fundamental melihat semesta raya dan dirinya sendiri. Sesuatu yang fundamental cenderung ingin selalu menyingkap segala rahasia. Sedangkan kekinian, lebih mampu untuk menciptakan alat-alat yang mengagumkan mata. Rekayasa senantiasa terjadi. Keinginan terus berkembang seiring teknologi. Kekinian selalu berdalih tentang sesuatu yang ingin dicapai adalah harus lebih baik lagi dan lagi. Kekinian melupakan waktu. Dan ketika disadari bahwa sesuatu yang fundamental dan kekinian bergerak sendiri-sendiri, ternyata waktu juga punya pergerakannya sendiri. Pergerakannya mengabaikan keduanya. Pergerakan waktu menghancurkan sesuatu yang fundamental dan kekinian. Dan yang tertinggal hanyalah catatan-catatan. Sesuatu yang fundamental meninggalkan catatan-catatan berupa kalkulasi-kalkulasi dengan segala kronologi perubahannya. Sedangkan, kekinian meninggalkan catatan-catatan berupa alat-alat dan hasil teknologi. Namun, siapa yang akan menemukan catatan-catatan tersebut kalau ternyata waktu benar-benar berhenti.

Wallahu’alam wallahulmusta’an.
Cibeusi, jatinangor 

Penyuntingan : [mungkin] sebuah konsep

Sat 21 Jun 2008
Beri komentar Ditulis oleh rumahkerja
Dipublikasikan pada kategori Kata Kita

Oleh : firdaus a.

Saya hadiahkan anda dengan sebuah permintaan maaf sebelumnya. Karena mungkin, sedikit tersentak jika tiba-tiba harus membicarakan tutorial-like article yang mungkin sebelumnya belum pernah saya tulis. Tapi ini hanya sebuah konsep, yang sebagian orang dianggap mewakili kata dasar tapi sebagian lain juga mengartikannya dengan permulaan. 

Jika kita pilih kata "dasar" maka semuanya seperti sangat rumit sehingga harus dibangun dengan pondasi yang kuat, baru kemudian sebuah bangunan bisa dikatakan "terbangun". Tapi kemudian jika kita pilih kata yang lainnya yaitu "permulaan", maka pengaruh kuat rumitnya sebuah ilmu, akan tiba-tiba menghilang. Seperti halnya, bagaimana cara SAYA menulis secara pribadi, tidak saya awali dengan dasar yang baik, hingga kata maaf di awal tulisan inipun harus saja terlontar. Dan kemudian memang harus dimaafkan, mau atau enggan sekalipun.

Akan terlalu rumit jika pembahasan kita kerucutkan pada satu atau media tertentu, itu sudah (setidaknya sempat) saya pikirkan sebelumnya. Pembicaraan yang "sempit" justru akan terasa "luas". Pengkotak-kotakan bahasan tanpa didahului sebuah konsep, justru akan membawa kita pada area bicara yang seperti tanpa batas. Mana kanan-kiri-depan-belakang-atas-bawah, seperti.. saya katakan "seperti" yang hilang. Kemungkinan terbaiknya hanya "kabur", "kurang jelas". Tapi ini akan semakin menyebabkan tujuan pembicaraan semakin hilang -sama sekali.

Melakukan penyuntingan -setidaknya menurut saya, adalah seperti gerbang terakhir (gerbang, tapi terakhir) menuju terbebasnya sebuah karya seseorang (apapun namanya, sesuai medianya) dari kurungan imajinasi dalam lingkup pembuatnya. Ia adalah seperti penerjemah, yang melakukan manipulasi untuk perkerjaannya, tapi dengan syarat, diketahui oleh pemilik bahasa yang sedang Ia terjemahkan. Menyunting sama sekali bukan memperbaiki keburukan, menyunting bukan melengkapi kekurangan. Menyunting adalah mempersiapkan kemasan, yang dengan kemasan itu, semakin muncullah apa yang sedang berada didalamnya. Jika harus berbicara konsep, maka itulah penyuntingan. Setidaknya menurut saya (sekali lagi).

Semoga, kita tidak saling ber’adu’ makna.

Karena kita (memang) tak boleh tertidur (terlalu) nyenyak

Mon 16 Jun 2008
3 Komentar Ditulis oleh rumahkerja
Dipublikasikan pada kategori Kata Kita
Oleh : moch. Muhadzis g.

Begini saudaraku…
suatu ketika seseorang berkata kepada anak-nya yang masih kecil : “bukan naik pohon-nya yang tidak boleh, tetapi jatuh-nya itu yang jangan”. Anak kecil tersebut, saat itu juga tidak jadi naik pohon. Jeda. Waktu lewat.
 
Setelah beberapa hari, anak kecil tersebut, menaiki pohon dan karena memang seseorang yang menasehatinya tadi, saat itu sedang tidur siang. Ia pun memberanikan diri menaiki pohon. Sebenarnya ia bukan tipe anak kecil yang sering melupakan nasehat. Dengan sangat hati-hati, dahan demi dahan ia lewati. Lagi dan lagi. Terus menuju keatas sampai  ke dahan yang paling kecil. Ketika sudah sampai didahan yang paling atas ia pun merasa gembira. Angin kencang menerpa wajahnya. Disudut bibirnya terselip sebuah senyuman kecil, walaupun sebenarnya lebih mirip seperti sebuah tawa kemenangan. Sesekali tubuhnya ikut goyang bersama dahan yang ia pegang. Dan ia menikmatinya. Ia tujukan matanya kemanapun ia mau. Ia semakin gembira karena di puncak pohon ini ia mampu melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda dari yang biasanya ia lihat. Sudut pandang dari sebuah ketinggian. Ada rasa puas dalam hatinya.
Setelah beberapa saat, akhirnya ia pun merasa bosan, dan ketika matanya vertikal melihat kebawah, seketika itu juga rasa takut menyergap, menyelimuti pikirannya. Sekarang, matanya ia pejamkan dengan paksa namun tangannya semakin erat memegangi dahan. Tubuhnya pun ia lebih rapatkan lagi ke dahan. Keringat dingin mulai menggenangi seluruh bagian tubuhnya. Bermacam bayangan melintas di kepalanya. Ia takut untuk turun. Ia takut terjatuh. Ia takut mati.
 
Cukup lama ia mematung di puncak pohon sebelum akhirnya ia memberanikan diri membuka matanya. Ia harus turun. Ia tidak betah berada di puncak. Ia longgarkan pegangan tangannya. Tubuhnya mulai punya jarak dengan dahan. Tidak lagi rapat. Perlahan, ia turunkan kakinya kemudian tubuhnya. Kakinya yang lebih dulu meraba-raba dahan. Yang besar dan kuat yang ia pijak. Namun ia tidak mau melihat kebawah. Matanya kali ini ia paksa untuk hanya melihat dahan yang pernah ia lewati. Dahan yang pasti yang akan ia lewati lagi. Jalan yang sama seperti tadi ketika ia naik. -maaf, saya tadi pergi ke tempat pangkas rambut dulu, memangkas rambut saya yang sudah kurang lebih enam tahun tak dipangkas…ya… sudah, dan segala puji hanya bagi-Nya-. Ia hanya percaya pada ingatannya. Ia hanya ingin melewati dahan-dahan yang tadi ia gunakan untuk naik. Meskipun sekarang ia mendapati ada banyak dahan yang tidak ia kenali untuk turun. Jalan dahan yang sepertinya “bisa lebih menyelamatkan” untuk turun. Namun ia bersikukuh melewati jalan dahan yang ada dalam ingatannya. Ia meyakini bahwa hanya ingatannyalah yang mampu menjadi penyelamat. Ia terus turun dan turun.
Dan, ketika sudah setengah perjalanan, setengah dari puncak dan setengah dari tanah, entah mengapa ia seperti kehilangan konsentrasi. Kakinya tiba-tiba sama sekali tidak menjejak dahan, hanya udara, tangannya yang tadinya mencengkeram tiba-tiba terlepas dari dahan, dan badannya seperti dipaksa untuk hilang keseimbangan. Ia tak mampu mengingat apa-apa lagi. Ia tak mampu melihat apa-apa. Ia terjatuh. Selama beberapa saat ia tergolek di tanah. Ia pingsan.
 
Ketika terbangun, ia tak mendapati siapapun disana. Hanya ada dirinya dan pohon. Ia berdiri, melihat ke sekeliling, melihat ke puncak pohon, melihat ke tanah tempatnya berpijak. Selama beberapa saat ia hanya terdiam. Dan lalu, sedikit berlari ia masuk kedalam rumah. Menuju kamar lalu ia pun memaksakan diri untuk tidur siang. Dan akhirnya, anak kecil itu pun tertidur siang itu.
 
Saudaraku… entahlah… mungkin bagian akhir cerita diatas tidaklah terlalu nyata, mungkin ada yang ditambahkan, mungkin ada yang dilebih-lebihkan, entahlah… saya tak terlalu jelas mengingatnya. Namun satu hal, saya memerlukan cerita tersebut untuk mengetahui siapa diri saya. Dan menurut saya, kita memang perlu untuk mengetahui siapa diri kita.
Saudaraku… ketahuilah… bahwa diri ini selalu saja mengajarkan kejahatan, bahwa diri ini selalu saja ingin terhindar dari siksaan, bahwa diri ini enggan merasakan kepedihan, bahwa diri ini ingin selalu meraih apa yang terlihat oleh mata, bahwa diri ini enggan menjamah wilayah rasa sakit sedikitpun.
Saudaraku… ketahuilah… saya bukan menganjurkan untuk menyiksa diri. Saya tidak menganjurkan untuk menyakiti diri sendiri. Bukan dan tidak. Ketahuilah… rasa sakit untuk sebuah keyakinan adalah harapan untuk sebuah kebahagiaan.
Saudaraku… ketahuilah… bahwa diri senantiasa mencari-cari sekutu untuk dapat mewujudkan hasrat dan keinginannya, bahwa kejahatan itu membutuhkan teman, bahwa kekejian itu seringkali berada dalam kelompok-kelompok, bahwa diri akan dengan mudah mengatakan “ya” untuk sesuatu yang memang terlihat mudah untuk dilakukan, bahwa diri akan sulit mengatakan “tidak” untuk sesuatu yang memang terlihat menyenangkan.
Saudaraku… ketahuilah… mungkin kita boleh memusuhi diri sendiri, tapi kita tetap tidak boleh mencelanya. Ketahuilah… bahwa diri harus kita didik tanpa henti. Tidak bisa tidak, bahwa diri harus ditaklukan dengan kurikulum kebenaran. Ketahuilah… bahwa diri tidak boleh dibiarkan terlalu liar menawar-nawar.
Saudaraku… ketahuilah… mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan segera menyerahkannya pada sesuatu yang kau anggap agung. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan membenarkan segala yang benar dan menyalahkan segala yang salah. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan semakin sedikit berbicara. Mungkin ketika diri sudah mulai dikenali, kau akan selalu mengingat  sesuatu yang paling penting yang berada diluar diri.
Wallahu’alam wallahulmusta’an.

Cibeusi, jatinangor, 2:00 AM, senin 16 juni 2008

Grass Root

Sat 7 Jun 2008
Beri komentar Ditulis oleh rumahkerja
Dipublikasikan pada kategori Kata Kita
oleh : moch. Muhadzis g.

Maaf sebelumnya, saya tak akan membahas judul diatas secara istilah atau bahasa atau bahkan politik. Tidak kearah sana pembicaraan kita mungkin. Sebuah jalan, saya kira merupakan juga sebuah pilihan. Dari mana seseorang akan memulai dan dimana sekiranya tujuan dapat tercapai. Mulailah dari sesuatu yang sederhana, begitu yang saya ingat dari seseorang yang saya tidak terlalu mengenalnya. Sudah terlalu banyak yang bergerak dengan lebih dulu berteriak, bukan menelaah segala sesuatu-nya terlebih dahulu. Terlalu sering kita mendapati pergerakan yang mengesampingkan kejernihan pemikiran. Sebagian dari kita masih terlalu silau dengan iming-iming. Kegemerlapan acapkali menjadi harapan. Maaf lagi, bukan berarti saya anti kemapanan, tidak.

Kalau kau merasa pintar, jangan pernah membohongi orang lain, begitu kata Ibu. Bagi saya pengetahuan adalah mata air atau malah cahaya -ketika listrik padam misalnya-. Mata air untuk kering dan tandus-nya ladang pikiran. Pengetahuan menjadi sesuatu yang basah -maaf, jangan mengartikannya dengan uang atau jabatan- dan menyegarkan. Atau cahaya, ketika kedua bola mata terselimuti gelapnya dogma, pengetahuan menjadi seberkas, dua berkas atau bahkan ribuan berkas cahaya terang yang mampu menuntun jalan seseorang. Apapun itu, mata air atau cahaya, pengetahuan tetap akan menjadi sebuah jalan malahan. Tidak akan dapat dikesampingkan bahwa pengetahuan-lah yang selalu menjadi pioneer atas tiap-tiap bangunan. Pengetahuan adalah pondasi kokoh yang keberadaan-nya haruslah diamini dengan pernyataan dan perbuatan.

Dan tugas siapakah agar pengetahuan itu sampai? Atau, tugas siapakah untuk membuat jalan pengetahuan? Lalu siapakah yang berhak atau tidak berhak memperoleh pengetahuan? Apakah semua orang berhak? Bagaimana kalau ternyata didapati ada “orang-orang yang memang mereka ini tidak ingin memperoleh pengetahuan”? Mungkinkah bahwa pengetahuan itu bisa saja dipaksakan? Atau mungkin lebih baik dibiarkan saja - toh… pengetahuan selalu mempunyai tujuan-? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah ada akan terus ada. Terlepas dari segala persoalan tugas, hak atau kewajiban, pengetahuan seringkali menjelma asas yang dijadikan perisai atas pertanyaan dari asas kemanusiaan yang lain -tidak semua memang, tapi hal itu ada-. Perbenturan ini kerap terjadi manakala asas (pengetahuan) yang telah mapan bertemu dengan asas kemanusiaan yang telah lebih dulu diyakini. Dan siapakah pemenang-nya? Saya sendiri tidak punya jawabannya. Tapi pergulatan itu terus saja ada. Dan mungkin saja memang akan terus ada. Pergulatan di wilayah kontekstual tidak masalah saya kira, namun jika pergulatan itu berimbas pada “orang-orang yang memang mereka ini tidak ingin memperoleh pengetahuan” bagaimana jadinya? Siapa yang mau bertanggung-jawab atas kebodohan orang lain? Tidak ada? Kalau begitu, jangan pernah membohongi orang lain.

Bisa jadi, ada yang harus dilepaskan dari kepala saya ihwal pengertian pengetahuan itu sendiri. Sebab ada, saya kira yang mengesampingkan pengetahuan dengan lebih dahulu mengedepankan pengalaman. Mereka lebih cenderung untuk mengambil sesuatu dari apa yang telah dialaminya sendiri, daripada  mengambil sesuatu tersebut dari buku-buku atau orang lain. Dan tentu saja setelahnya mereka akan menyebut hal itu sebagai pengetahuan. Apakah hal tersebut bisa disalahkan? Bisa ya, bisa juga tidak. Kapan keduanya ditempatkan, itulah saya kira yang paling penting, itulah hal yang paling sulit, penempatan. Kapan saatnya mengambil pengetahuan dan kapan saatnya mengambil pengalaman. Saya tidak mengesampingkan praktik, justru sebelum praktik itu dimulailah, penempatan pengetahuan atau pengalaman menjadi hal yang penting.

Akan dengan mudah dikatakan, “jalankan saja keduanya secara bersamaan!”. Sampai saat menuliskan ini, saya berani menjawab, “tidak bisa!”, salah satunya harus dikorbankan, sebab pada waktu yang bersamaan, tidak mungkin keduanya hadir. Kecuali jika saya adalah seorang plagiat murni yang tak punya pendirian. Dan tidak seorang pun saya kira yang ingin disebut sebagai plagiat apalagi dengan akhiran murni. Alangkah beruntung, seseorang yang mampu menempatkan pengetahuan dan pengalaman dengan benar. Waktunya tepat, hasilnya sesuai, kesalahan terminimalisasi dan segalanya menjadi lebih terstruktur.

Bagaimana halnya dengan hubungan antar individu? Bagaimana jika dalam sebuah kelompok individu terdapat perbedaan yang tajam antara pengetahuan dan pengalaman? Masing-masing mengusung sampai ujung apa yang diyakininya? Disinilah sikap yang bermain, toleransi merupakan keharusan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Toleransi tidak bisa lagi dirombak pengertiannya jika telah ditemukan dua perbedaan yang tajam. Ketika toleransi telah dirombak, fisik atau tubuh individu-lah yang akan menjadi terlukai, tersakiti dan maaf, sangat mungkin, berdarah-darah. Kecuali hal tersebut yang diinginkan -berdarah-darah-, toleransi dapat saja dikubur dan dibuang jauh-jauh. Batas toleransi individu akan senantiasa berbeda jika sudah dihubungkan dengan sesuatu yang transenden. Itu urusan lain, saya kira. Hubungan antar individu sudah tak lagi diutamakan. Pengetahuan dan pengalaman mempunyai tujuan-nya sendiri, yang tidak lain berada diluar individu. Disini individu telah menjadi alat, dan dengan kerelaan, individu telah bersedia menjadi alat. Individu menjadi alat pengetahuan dan atau pengalaman yang paling setia. Kalau memang ini yang diinginkan, sebaiknya saya dan individu-individu yang lain sudah harus mulai berdo’a.

Siapa tahu saja semua pengertian saya diatas mampu menjungkir-balikkan pengertian pengetahuan ataupun pengalaman menjadi sesuatu yang lebih indah untuk dimaknai dan lebih mampu untuk diterima oleh individu-individu secara arif. Sedikit platonik, seandainya saja tidak ada satu pun yang terlupakan baik dari pengetahuan maupun pengalaman, mungkin tidak akan ada perbedaan tajam yang acapkali melahirkan kekerasan.

Sampai saat ini, saya masih setuju bahwa pembentukan kecenderungan individu, baik kearah pengetahuan maupun kearah pengalaman, harus dimulai dari lingkungan terkecil dimana individu berada, dimana individu terbentuk dalam kelompok-kelompok terkecilnya. Dibiarkan mencari bentuknya yang paling sesuai disana. Prosesnya lama memang, dan selalu berjalan lambat, tapi saya kira itu lebih baik daripada bergerak massif terlalu pro-aktif yang akan melahirkan penyesalan-penyesalan di kemudian hari.

Wallahu’alam wallahulmusta’an.

 

Jatinangor, june 07 2008.
«« Older Items
Menandai Blog | Blog Bookmarking
Add to: Digg Add to: Del.icio.us Add to: StumbleUpon Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Technorati Add to: Ma.Gnolia

Ruang

  • Carstensz Dove
  • People Of RumahKerja

Kategori

  • Kata Kita (12)

Blogroll

  • Blog Firdaus
  • Blog GSSTF
  • Carstensz Dove

Meta

  • SiteAdmin
  • Daftar (Tidak Diijinkan)
  • Eksplorasi Gambar

Referral Programs

Firefox 3

Blog Badges

You Comment, I Folow
Free PageRank Checker
Google

Recent Entries

  • Kekuatan berpikir, haruskah?
  • Kekinian, “proses” yang melelahkan dan me”lena”kan
  • Penyuntingan : [mungkin] sebuah konsep
  • Karena kita (memang) tak boleh tertidur (terlalu) nyenyak
  • Grass Root
  • Persoalan hidup dimulai ketika lahir dan berakhir ketika mati.
  • Bukan Berarti Saya Tak Punya Jawaban-nya.
  • Sejatinya kita memang harus menunggu
  • 20 mei 2008
  • Mengheningkan Cipta
  • Baru Saja Belajar Bicara
  • Selamat Datang Di RumahKerja BLOG

Blog Hosting

freeBlog [at] Blogsome
Edited theme by :firdaus | ariefatosa
Blogsome Themes & Hacks : StandAlone