Mungkin hanya itulah (kekuatan berpikir), yang pertama kali akan selalu diajarkan kepada seseorang. Bagaimana seseorang mampu untuk menuangkan pikirannya, bagaimana seseorang mampu menelaah segala sesuatu, bagaimana seseorang mampu bereaksi secara spontan dengan ketepatan, diajarkan juga bagaimana langkah-langkah seseorang dalam mencoba memecahkan masalah. Seperti menjadi suatu keharusan, bahwa berpikir adalah jalan terbaik menuju sebuah penyelesaian. Tak terbatas pada penyelesaian yang ada didepan mata saja tetapi juga penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan yang lebih jauh lagi berada didepannya. Kekuatan berpikir telah menjadi semacam sinyal yang tak samar bagi sebagian orang dalam menyetujui tindakan seseorang. Kekuatan berpikir seseorang juga telah didapati mampu mengambil hati dan pikiran sebagian orang lain. Betapa magnet kekuatan berpikir ini diketahui begitu besarnya dalam menarik massa. Sehingga sulit didapatkan siapa-siapa saja yang tidak ikut tertarik kedalamnya. Kalau pun ada, mungkin ia akan disebut sebagai orang yang tidak berpikir.
Telah disepakati sebelumnya, bahwa kekuatan hanya dapat diperoleh melalui latihan-latihan. Beberapa metode latihan pun senantiasa dicoba-terapkan untuk dapat mencapai kekuatan. Karena sebelumnya telah pula disadari, bahwa tidak ada sesuatu pun yang datang secara tiba-tiba. Segalanya membutuhkan proses. Dalam bahasa yang lebih sederhana, “segala sesuatu ada waktunya”. Penempaan terhadap sesuatu ini, yang kemudian diyakini, mesti dilakukan sejak dini. Karena sesuatu yang kuat, dipercaya kelak menjadi warisan yang tak akan pernah terabaikan. Sesuatu yang kuat adalah harapan dan mimpi-mimpi setiap bayi yang baru lahir. Seperti juga kekuatan seorang Ibu ketika menyapih anak yang masih kecil supaya tumbuh besar.
Dan ketika telah dimafhumi hal-ihwal warisan, cara berpikir-lah yang selalu menjadi perhatian serius. Cara berpikir harus selalu diwariskan, begitulah yang terjadi. Kecenderungan melenceng dari cara berpikir adalah kecenderungan yang senantiasa diwaspadai. Sedikit saja berbelok, maka rusaklah tatanan yang telah dibangun kokoh. Dan tidak ada seorang pembangun pun yang menginginkan bangunannya roboh. Namun yang patut disayangkan, kadang kala terjadi pemaksaan terhadap cara berpikir seseorang. Pemaksaan seperti itulah yang semestinya disepakati-ulang.
Adalah sah apabila pemaksaan tersebut memang ditujukan untuk hal-hal yang benar dan mulia. Sebab setiap kerusakan harus ditangani sesegera mungkin, sebelum segalanya menjadi terlambat dan tidak bisa lagi diperbaiki. Sebelum hal-hal yang benar lagi mulia itu hablur dan terdeviasi, pemaksaan adalah satu-satunya kata-kunci untuk menutup kembali lubang-lubang kerusakan. Pemaksaan untuk sebuah kebenaran adalah juga kebenaran itu sendiri. Namun akan lain lagi ceritanya, apabila pemaksaan tersebut diterapkan pada orang-orang yang memiliki kekuatan berpikir. Semakin dipaksa, mereka akan semakin kuat. Semakin ditekan, mereka akan semakin mempertanyakan. Semakin dihadang, mereka akan semakin membangkang. Pemaksaan, di tempat yang seperti ini, menemukan rintangannya. Kalau sudah demikian keadaannya, perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi yang sejatinya dilakukan untuk sebuah kebenaran, hanya akan seperti makan hati lalu pulang dengan menelan ludah sendiri yang terasa semakin pahit. Perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi tak akan berguna lagi, kecuali bagi yang memang ingin men-terkenal-kan diri mungkin.
Hanya butuh sedikit waktu
Tidak banyak sebenarnya yang diminta oleh suatu kejelasan. Untuk apapun, dengan argumen apapun niscaya tampak hakikat kebenaran. Dan itulah suatu kejelasan yang terberikan. Itu pulalah yang merupakan kepuasan akal. Sayangnya, kekuatan berpikir kadang kala malah memburamkan makna yang telah jelas. Pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat malah menghancurkan hakikat itu sendiri. Tindakan-tindakan merombak kebenaran, guna mendapatkan kebenaran-kebenaran baru untuk diyakini, cenderung membingungkan dan pada akhirnya malah memusnahkan tatanan yang telah ajeg dan jelas. Padahal, ketika ke-musnah-an terjadi, tidak akan ada yang bersedia untuk dipersalahkan.
Jika memang didapati ada beberapa individu yang memiliki motivasi bongkar-pasang kebenaran, maka sudah selayaknya, ada individu-individu lain sebagai penyeimbang. Individu-individu yang tetap berada diatas jalannya, yang diyakini perjalanannya adalah juga sebuah kebenaran, tidak mudah goyah oleh angin kerusakan dan tidak rentan tersengat zaman. Individu-individu penyeimbang ini bisa jadi ada dimana saja dan datang darimana saja. Persoalannya, dimana mencari individu-individu penyeimbang ini?. Sedangkan, individu yang bongkar-pasang kebenaran dan individu penyeimbang-nya, seringkali didapati bahwa kedua-duanya adalah pencari kebenaran. Seringkali juga, adanya semacam pengakuan, bahwa kedua-duanya adalah orang-orang yang sedang mencari kebenaran.
Hanya butuh sedikit waktu, untuk penampakan hakikat kebenaran. Dan memang, waktu tersebut, tidaklah banyak. Namun, kekuatan berpikir acapkali tak menyadari waktu, baik disengaja ataupun tidak disengaja. Jarang sekali disadari, bahwa ada yang disebut dengan waktu renggang atau waktu relaksasi, yang seharusnya dimiliki oleh kekuatan berpikir itu sendiri sebenarnya. Dimana waktu relaksasi ini berfungsi sebagai pen-stabil kekuatan berpikir. Yaitu, agar (kekuatan berpikir) ini tidak anjlok kembali pada nadir kelemahannya secara tiba-tiba. Patut diketahui, bahwa ketergesa-gesaan adalah sebenar-benarnya musuh yang harus dihindari, kecuali untuk hal-hal tertentu yang telah disepakati, ketergesa-gesaan merupakan suatu keharusan, namun hal-hal tertentu ini (ketergesa-gesaan yang merupakan keharusan) jumlahnya sedikit sekali. Jadi, pada asalnya, ketergesa-gesaan haruslah dihindari. Sebisa mungkin untuk terlihatnya hakikat kebenaran. Dan itu berarti hanya butuh sedikit waktu.
Disinilah perdebatan yang tak akan pernah berhenti itu, yakni, ketika kekuatan berpikir dihadapkan pada “kekuatannya” yang optimal, ketika kekuatan berpikir mesti “berpikir” sekeras mungkin, ketika kekuatan berpikir “hanya” harus menghadapi dua pilihan, menunggu atau terus bergerak melaju. Ketika itulah, kekuatan berpikir harus menyerah tanpa daya pada apa-apa yang tak pernah terpikirkan. Tanpa pemaksaan dan tanpa kekuatan. Karena siapa tahu, bahwa menyerah adalah juga termasuk kedalam kekuatan berpikir.
Wallahu’alam wallahulmusta’an.
Cibeusi, jatinangor 30.06.2008
![]() |



